Analogi gerbong yang salah ini saya dapatkan dari almarhum adik saya. Semasa ia hidup saya ndak selalu ada di dekatnya. Tapi ada saat-saat tertentu kami punya waktu untuk bertemu & mengobrol banyak.
Ada kalanya kehidupan berjalan ndak sesuai dengan yang kita harapkan. Mau jalan one way ke kota A, naik kereta X. Ndak tahunya malah kejebur ke gerbong yang salah, naik kereta Y ke kota B. Ndak bisa balik & harus dijalani. Analogi ini ia pahami ketika sudah berada dalam fase menerima kenyataan bahwa ia mengidap kanker. Ternyata di kemudian hari saya pun mengalami hal yang sama.