Tampilkan postingan dengan label Fiksi Papa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi Papa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Agustus 2016

Layang-layang Berbentuk Bintang




Angin berhembus tiba-tiba. Menggoyangkan rambut yang jatuh tak beraturan di keningnya. Ia tersentak dan menoleh padaku.

"Angin Papa!" serunya, beranjak berdiri.

Aku mengangguk.

Sabtu, 28 Mei 2016

Distorsi




Kau menangis

"Kangen Papa," bisikmu

Sabtu, 12 Maret 2016

(FF) Pesta




Tepat seperti inilah pesta pernikahan yang dulu pernah kuangankan bersama Rina. Hal itu bahkan sudah terbayang saat kami belum menikah. Pesta pernikahan anak kami kelak. Pesta dengan nuansa adat Jawa.

Rina pasti akan terlihat cantik sekali bila memakai kebaya brokat berwarna cerah. Secerah wajah yang selalu ditampilkannya. Sedangkan aku akan memakai beskap hitam dan blangkon. Lalu kami berdua akan memakai jarit bermotif sama, yaitu Truntum Garuda.
 

Jumat, 22 Januari 2016

Kopi



“Bi.. Tolong belikan kopi di warung Mak Inten! Sebentar lagi bapakmu pulang.”

Aku menoleh pada Ibu yang sedang sibuk menyiangi kangkung. Sedetik kemudian kutatap penggorengan panas di depanku, masih ada beberapa menjes kacang di dalamnya.

“Lah, ini menjes-nya bagaimana?” gumamku.

“Sudah, tinggalkan dulu,” Ibu beranjak dari duduknya.

Tak ada hal lain yang bisa kulakukan kecuali menerima uang dari Ibu dan beranjak pergi.

“Kopinya setengah lusin saja.”

Masih kudengar pesan dari Ibu sebelum pintu depan tertutup di belakang punggungku.

____

Kamis, 21 Januari 2016

Kau Bukan Ilalang



Kau bukan ilalang Sayangku..
Melainkan sekuntum bunga matahari
Yang selalu menghangatkan waktu
Mengirim setiap ulas senyum penggetar hati

Kamis, 12 November 2015

FF - Dua Lelaki



“Bisakah aku menitipkan ia padamu?”

“Saya .. ..”

“Kau mencintainya?”

Rabu, 12 Agustus 2015

Sketsa Alfabeta



Malamku senyap
Pagiku gelap
Siangku berawan
Senjaku seliris hujan


Selasa, 30 Juni 2015

Uban



1.
            Sudah beberapa hari belakangan ini aku melihat ada yang berubah dari  perilaku Marina – istriku. Ia menyambangi depan cermin jauh lebih sering daripada biasanya. Bangun tidur, bercermin. Membelah-belah uraian rambut di kepalanya. Sebelum tidur, bercermin juga. Melakukan hal yang sama, membelah-belah uraian rambutnya. Belum lagi pada saat-saat lain ketika kebetulan aku sedang berada di rumah dan memergokinya melakukan repetisi ritual baru itu.

Minggu, 19 April 2015

Sambal Jeruk




Prolog

            Ia menyodorkan padaku sepiring kecil sambal jeruk buatannya. Aku menatap keduanya bergantian. Ia dan sambal jeruk itu. Betapa aku mengharapkan semuanya itu bukanlah sekadar mimpi di siang bolong...

_____

Senin, 06 April 2015

Momentum




Selasa, 03 Maret 2015

Kalau Kau Tiada Lagi




Kalau kau menyerah
Dan kau pergi
Maka aku akan sendirian di dunia ini
Memang masih ada yang menemaniku
Dan berbagi hidup denganku
Tapi semuanya tak akan lagi sama
Tanpa kau
Tempatku berbagi ucapan dan kata

Rabu, 25 Februari 2015

Cicak Di Dinding




Dia cuma satu
Menontonku termangu
Di depan piano kesayanganku
Dalam denting tak tentu